Prof Dr H Priyatna Abdurrasyid: Jalan Panjang Mengikuti Suara Hati
Perjalanannya sebagai anak bangsa penuh dinamika, penuh dengan suka dan duka, baik dalam karier maupun keluarga. Figur seorang ayah yang sangat dibutuhkannya, berpulang saat ia masih kecil. Dua zaman penjajahan, yaitu masa Belanda dan pendudukan Jepang dialaminya, bahkan pernah memimpin satu peleton ketika usianya baru menginjak 16 tahun.
Pada masa kemerdekaan pun perjuangannya tidak berhenti. Jalan panjang penuh gejolak harus dilaluinya dalam bertindak dan bekerja sesuai panggilan nurani. Masa pemerintahan silih berganti, ujian berkali-kali datang menerpa, mulai dari cobaan sogokan hingga mengalami tekanan. Namun ia tetap mempertahankan kejujuran dan dedikasi. Bahkan satu shopping bag besar uang ucapan terima kasih pun pernah ditampiknya.
Teror, cekal, dan ancaman yang ia terima karena keteguhan hatinya, dihadapi dengan perasaan ikhlas. Namun semua itu membawa hikmah dan berkah dalam hidupnya. Menjadi Hakim Internasional, dikukuhkan sebagai guru besar, meraih begitu banyak gelar akademik dan penghargaan internasional, dikaruniai keluarga, anak, cucu yang kerap membuatnya selalu bersyukur.
Di ruang tamu rumahnya yang penuh buku, pria yang memiliki nama dengan gelar lengkap Prof Dr H Priyatna Abdurrasyid SH PhD CIISL D IAA Fell BIS LAA FCIArb FHKArb FCBArb ini, menuturkan perjalanan hidupnya. Rasanya tak cukup waktu dan ruang untuk menelusuri jalan hidupnya yang penuh liku.
Bagaimana kehidupan masa kecil Anda, bisa diceritakan secara singkat?
Saya lahir di Bandung, pada tanggal 5 Desember 1929. Ayah saya bekerja di Gedung Sate. Beliau pemain bola BOND Bandung. Suatu saat ayah sakit, kemudian meninggal. Mungkin waktu itu umur saya 3 tahunan, samar-samarlah. Demi pendidikan dan masa depan, saya diambil oleh kakak ayah saya ke Jakarta.
Selanjutnya bagaimana dengan sekolah Anda?
Beruntung sekali, dalam pengasuhan Uwak saya mendapatkan pendidikan yang layak sehingga membuat saya gemar membaca. Di samping itu beliau juga sangat menanamkan disiplin dan pendirian yang kuat.
Saya dimasukkan ke TK, waktu itu namanya Freubel School. Pada usia 8 tahun, saya ikut pindah ke Tanjung Pinang dan masuk sekolah HIS (Hollands Inlandsche School). Sore hari saya belajar di Middag Europese Lagere School. Saya masuk Padvinderij (sekarang Pramuka) dan seringkali menerima tamu Boyscout dari Singapura. Pada masa itu saya mulai bisa berbahasa Inggris, bahasa Cina, dan tentunya bahasa Belanda yang juga dipergunakan di rumah.
Pengalamannya semasa SMP, di mana ia belajar tentang sejarah dunia dari salah satu gurunya, yang dipadukan dengan rasa nasionalisme yang tinggi, membuatnya memutuskan untuk bergabung dengan BKR, embrio dari TNI. Kemudian bergabung di Polisi Tentara Republik Indonesia (PTRI), cikal bakal Polisi Militer (PM).
Dapatkah Anda ceritakan sekelumit pengalaman sebagai seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia?
Waktu saya masih berusia 16 tahun, saya bergabung di Batalyon II. Pada awal perjuangan kita hanya bersenjatakan bambu runcing. Selama tahun 1945-1950, saya memimpin satu peleton dan berhasil mempersenjatai pasukan dengan berbagai macam senjata yang direbut dari musuh. Selama kurun waktu tersebut, saya sudah bergerilya di Jawa Barat, Sumatra Selatan, kemudian Kalimantan Barat.
Apakah ada kejadian-kejadian yang berkesan pada zaman itu?
Saya pernah dengan perahu kecil menyeberang ke Sumatra. Kami sempat diserang badai di Selat Sunda, dihadang kapal perang Belanda, juga terbawa arus ke Lautan Hindia selama 7 hari. Tapi Alhamdulillah berkat perlindungan Allah, kami selamat sampai ke Sumatra.
Keputusannya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, bahkan hingga ke Luar Negeri, telah mengubah jalan hidup Letnan Satu Veteran Pejuang Kemerdekaan RI ini, dari prajurit RI menjadi salah satu ilmuwan terkemuka yang dihormati di dalam dan luar negeri.
Kapan Anda mulai melanjutkan studi?
Pada tahun 1949, ketika melaksanakan tugas sebagai prajurit, saya berangkat ke Jakarta. Secara tidak sengaja, saya bertemu dengan Mochtar Kusumaatmadja. Waktu itu beliau sedang sekolah di SMA Adam Bachtiar (SMA non-cooperator-Republik). Jadi ketika dia lewat, saya tegur, ngobrol-ngobrol, pendek kata, dia mau membantu dan membimbing saya untuk ikut ujian akhir SMA. Alhamdulillah, saya lulus. Malah beberapa angka saya lebih bagus daripada dia.
Di mana anda melanjutkan pendidikan?
Saya masuk di Perguruan Tinggi Hukum RI yang berhaluan Republik. Kuliah saya sempat terhenti dua tahun, karena kehabisan biaya. Saya tidak mendapat gaji, sebab pada waktu itu manajemen TNI masih kacau, dan saya juga tidak mendapat beasiswa. Tapi melihat teman-teman saya menyiapkan ujian akhir kuliah, saya tergugah untuk mencoba mengejar mereka. Akhirnya, Mei tahun 1955 saya berhasil menyelesaikan ujian dengan baik.
Selepas kuliah, direktur Internasional Institute of Space Law (IISL), Paris, Prancis ini tertarik untuk menekuni bidang hukum, khususnya Hukum Internasional. Kariernya di TNI dilepaskan, dan ia lebih memilih jalur akademis. Ternyata pilihannya tidak salah. Hal itu terbukti oleh banyaknya tanda penghargaan yang diterima ahli hukum udara dan ruang angkasa ini, baik dari pemerintah Indonesia maupun dunia internasional.
Anda tetap berkarier di TNI selepas kuliah?
Tidak, saya memutuskan berhenti dari TNI. Saya tertarik untuk menjadi jaksa dan ditugaskan di Kejaksaan Negeri Jakarta pada tahun 1955. Tahun 1957, saya mendapat tawaran untuk sekolah di luar negeri dari Departemen Kehakiman. Bidang yang saya pilih adalah Hukum Udara dan Hukum Ruang Angkasa (Air and Space Law) di Institute of Air and Space Law, McGill University, Montreal, Kanada. Alhamdulillah selama 2 tahun saya mengikuti kuliah dan lulus.
Tahun 1959 saya pulang, kerja lagi di Kejaksaan. Begitu pulang, saya dipromosikan jadi Kepala Kejaksaan di Palembang, terus pindah ke Bandung sebagai Jaksa Tinggi Jawa Barat. Tahun 1966, saya diangkat sebagai Wakil Jaksa Agung, yang waktu itu sudah setingkat menteri. Umur saya waktu itu 36 tahun, lumayan ya. Tahun 1966 juga, saya ditunjuk sebagai Wakil Ketua Pemberantasan Korupsi. Rupanya saya terlalu serius.
Maksud Anda terlalu serius?
Ketika saya memeriksa salah seorang pimpinan yang diduga terlibat kasus Pertamina, saya mendapat tentangan keras dari penguasa negara ini. Saya sempat diberi pilihan, kalau saya mau bermain sandiwara saya ditawari menjadi Jaksa Agung. Namun saya memilih bekerja sesuai prosedur dan berpegang teguh pada kejujuran. Sejak saat itu, saya mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi.
Perlakuan seperti apa Anda alami?
Oleh atasan saya diberi surat pemberhentian secara sepihak. Gaji saya tidak dibayar, mobil dinas juga diambil. Pokoknya saya tidak bisa bergeraklah. Dua tahun saya diteror, diintel, diancam. Tapi, alhamdulillah saya tidak melakukan tindakan macam-macam yang menunjukkan sakit hati, kecewa, atau putus asa.
Tentu ada perbedaan antara Pemerintah zaman dulu dan sekarang dalam kasus penanganan hukum.
Ada juga perlakuan tidak mengenakkan yang saya alami akhir 1999. Pada waktu itu saya akan menyelesaikan sengketa antara PLN dan salah satu perusahaan Amerika. Saya dipilih menjadi arbitrator internasional dan sidangnya di Den Haag. Ketika itu, datang seseorang yang membawa surat dari Menteri Keuangan yang isinya perintah agar saya tidak menghadiri sidang. Saya jawab, itu tidak mungkin karena ini menyangkut reputasi saya sebagai wasit internasional. Jika saya absen, sidang menjadi tidak seimbang. Saya katakan saya akan tetap berangkat apa pun alasannya, namun kemudian saya mendapat ancaman terhadap keselamatan keluarga saya. Katanya, “Kalau Pak Priyatna tidak bersedia secara sukarela, terpaksa kami akan melakukan kidnap (penculikan, Red).”
Pelajaran yang bisa Anda ambil dari perlakuan tadi?
Semua malapetaka yang saya alami itu adalah hikmah. Buktinya saya sekarang keadaannya cukup bagus. Saya Hakim Internasional di Amerika, Inggris, Prancis, Belanda, Jepang, Korea, Singapura. Malapetaka itu saya terima dengan lapang dada. Saya tidak balas dendam, karena saya percaya pada keadilan Tuhan.
Anda berkali-kali mendapat tawaran di luar negeri dengan jabatan dan penghasilan tinggi selalu menolak.
(Priyatna membuka kaca matanya dan menyeka air matanya)
Saya cinta Indonesia. Saya sering sedih, kita ini negara kaya tapi sering dibodohi. Terakhir beberapa bulan yang lalu saya mendapat tawaran untuk mengajar di Amerika. Putri saya, Zahra, sangat setuju bahkan berharap bisa tinggal bersama di sana karena ia ingin melanjutkan studi di Amerika. Tapi karena kecintaan itu saya bertahan untuk tetap tinggal di Indonesia.
Mantan atlet hoki Nasional tahun 1954-1955 ini begitu gandrung membaca. Konsultan biro hukum “Remy and Darus” ini mempunyai tiga ruang kamar sebagai perpustakaan khusus untuk menampung buku-bukunya yang jumlahnya ribuan. Bapak 6 orang anak dan 9 orang cucu ini sangat tinggi kepeduliannya pada pendidikan dan masa depan bangsa.
Bagaimana pengalaman anda dalam berkiprah di dunia pendidikan?
Saya mengajar di berbagai universitas, di dalam dan luar negeri. Saya selalu merasa kasihan pada anak didik, yang mendapat hambatan dari dosen lain. Kadang prosedurnya dipersulit. Periksa skripsi berbulan-bulan tidak selesai, kemudian hilang. Saya kalau periksa skripsi atau tesis, tidak lama-lama, ya paling lambat 1 minggu. Karena bidang saya, bisa koreksi cepat, tidak perlu lihat buku sana-sini.
Kalau perlu, mereka saya bantu kertas. Saya suka membuat summary untuk kuliah. Saya juga pernah membantu mereka yang menganggur, ada 20 orang. Saya kumpulkan saya train mereka 2 tahun. Saya carikan proyek, mereka yang mengerjakan.
Bagaimana dengan pemberantasan korupsi saat ini?
Orang KPK sekarang saya kira bagus. Saya diminta untuk mengajukan usulan oleh salah seorang anggota KPK (memperlihatkan sebuah kartu nama). Saya berikan beberapa usul di antaranya para pejabat kabinet diikutkan ESQ. Saya yakin SBY mau.
Saya mengajukan suatu mekanisme yang disebut statutory declaration yaitu membuat daftar kekayaan pejabat berikut suami/istri, anak-menantu, cucu, dan ayah-ibu. Orang Indonesia kan banyak yang menyimpan uang di luar negeri. Uang itu diusahakan kembali, diputihkan, diumumkan. Syaratnya ditanamkan di sektor yang ditetapkan pemerintah, misalnya jalan tol atau industri. Mereka boleh pilih. Tentu saja ada pinaltinya sebesar 0,5%.
Jika hartanya tidak didaftar, otomatis dalam pengurusan negara. Kita bisa gunakan mareva injuction yaitu satu mekanisme internasional yang bisa mengejar harta yang tidak didaftar.
Anda terlihat masih cukup energik dan semangat di usia sekarang.
Saya punya kiat agar awet muda. Pertama, percaya pada agama. Kedua, ibadah semampunya, dan ketiga, banyaklah membangun jaringan, menjalin pertemanan sebanyak mungkin. Saya punya teman yang sangat berkesan yaitu Robert Kennedy, Jaksa Agung Amerika Serikat. Seorang guru besar di Sorbonne, Paris Prof E Pepin, guru sekaligus mentor saya sering mengatakan, “Priyatna itu murid favorit saya.” Muridnya kan banyak di seluruh dunia, tapi dia selalu cerita di belakang (saya), saya nomor satu. Dia selalu bilang, saya bangga punya murid seperti Priyatna.
Apa kegemaran Anda?
Wah, saya kalau ditanya hobi, banyak ya. Hobi saya itu olahraga, mengunjungi tempat-tempat khusus seperti museum, dan terutama membaca.
Satu lagi, saya hoby memasak. Saya suka makan steak. Anak-anak saya bilang, “Tak ada restoran yang bisa menandingi steak buatan Ayah!” Nanti kapan-kapan kalian ikut makan di rumah, akan saya buatkan steak yang istimewa.
Tentunya Anda mempunyai jenis buku favorit.
Hampir segala jenis buku saya suka. Kalau ke luar negeri, oleh-olehnya buku-buku bisa satu koper besar. Buku adalah harta berharga saya. Saya tidak punya rumah dan mobil. Rumah dan mobil ini punya istri saya sebelum menikah. Tabungan hanya punya sedikit, saya merasa itu sudah cukup. Yang jelas saya punya ribuan buku.
Mengapa Anda selalu bersedia diajak Pak Ary untuk sharing di ESQ?
Saya selalu mendapat sesuatu yang baru tiap menghadiri ESQ (kembali meneteskan air mata). Saya akan selalu mendukung, karena saya yakin dengan ESQ Indonesia akan benar-benar bangkit (berhenti sejenak).
Kang Ary itu orangnya cerdas, pinter. Ia bisa menulis buku sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Cara menjelaskan Islam dengan konsep 165 itu sangat bagus. Makanya suatu saat saya harus membuat buku dengan Kang Ary.
Apa filosofi hidup Anda?
Try to do the best thing for others. Selalu mencoba berbuat kebaikan apa saja yang kita mampu kepada semua orang. Juga usahakan jangan sampai kita menyusahkan orang lain, jangan meminta kepada orang lain, tapi memberi, give and share each other. (Ira, Amp, Naw, Isw)








Berlangganan Berita ESQ via email:



