Liputan ESQ Alumnae Day Desember 2009

Sabtu-Minggu (19-20/12) ESQ mengadakan rangkaian kegiatan yang tidak hanya ditujukan para alumni training ESQ, tetapi juga masyarakat umum. Kegiatan yang bertajuk ESQ Alumnae Day ini terdiri dari beragam acara menarik yang bisa diikuti tanpa biaya.

Alumnae Day berlangsung di Gedung Menara 165 Jl. TB Simatupang Kav 1, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Berikut rangkaian kegiatan Alumnae Day:

Sabtu, 19 Desember 2009

ESQ RENUNGAN 165 (Pukul 08.30-12.00 WIB)

Acara yang dipandu Fadhlie Mudaz selaku salah satu trainer ESQ ini diikuti sekitar 90 peserta. Acara selama 3 jam ini mengajak para pengunjung mengikuti salah satu materi yang pernah mereka dapatkan saat training. Pagi itu, Fadhlie Mudaz menjelaskan materi “Strategic Collaboration”.

Bagi yang telah mengikuti training ESQ, acara ini bisa menjadi pengingat. Namun bagi yang belum menjadi alumni, ESQ Renungan 165 menjadi pembuka wawasan dan pengalaman. Tak sedikit para alumni mengajak keluarga atau rekan mereka yang belum ikut training agar bisa merasakan pengalaman bermanfaat yang pernah mereka dapatkan selama training ESQ.

ESQ KALAM 165 (Pukul 13.00-15.00 WIB)

Acara ini dipandu oleh Fadlan Irsyad yang diikuti sekitar 100 peserta, Sabtu (19/12) Pukul 13:00-15:30 WIB. ESQ Kalam 165 kali ini membedah buku The Power of Al Fatihah. Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. M. Amin Aziz yang juga sebagai penulis buku tersebut. Prof Amin mengaku terdorong untuk menulis buku The Power of Al Fatihah karena prihatin melihat kondisi kehidupan sosial umat Islam, terutama kualitas iman dan ibadahnya yang kurang sehingga tidak mampu mencapai mukmin yang berahlak mulia.

Lebih lanjut Prof Amin mengatakan, dengan memahami Al-Qur’an secara benar, maka cita-cita umat Islam menjadi umat pilihan Allah, meraih kemenangan, damai dan sejahtera serta menjadi rahmat bagi sekalian alam, akan tercapai.

ESQ LAYAR 165 (Pukul 16:00-18:00 WIB)

Film yang diangkat dalam ESQ Layar 165 adalah Le Grand Voyage. Le Grand Voyage adalah film yang membuat penontonnya pulang dengan hati ‘berdarah-darah’. Sebagai film yang sukses mengaduk emosi dan menggelitik saraf spiritual film ini terhitung unik dan sederhana.

Le Grand Voyage menampilkan seorang anak bertanya pada ayahnya. ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.” Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.

”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”

Percakapan ini terbetik pada sebuah trotoar di Bulgaria ketika keduanya terpaksa berlindung dari empasan badai salju. Mobil mereka mogok. Usai melintas sepertiga benua Eropa di atas roda empat, tanya Reda (Nicolas Cazale) pun akhirnya pecah. ”Mengapa tak naik pesawat terbang saja ke Makkah?”

Tafsirnya adalah semakin sulit perjalanan menuju Makkah, menurut sang ayah, maka semakin kita memurnikan jiwa kita –seperti halnya perjalanan air laut yang mengangkasa. Hanya dengan cara itulah, ia menemukan kemurniannya kembali. Inilah pesan metaforis Le Grand Voyage, tetapi bukan satu-satunya pesan bernuansa spiritual yang disodorkan peraih Film Terbaik Venice Film Festival ini.

Sang ayah, diperankan secara apik oleh aktor kawakan Mohamed Majd, adalah imigran Maroko. Telah menetap 30 tahun di Prancis, laki-laki berwajah Afrika utara itu masih memegang kukuh budaya Arab dan Islam. Sementara Reda adalah generasi kedua imigran yang sudah kebarat-baratan, ia bahkan tak pernah shalat dan memacari seorang gadis Prancis nonmuslim.

Suatu waktu, sang ayah sekonyong-konyong menarik rem tangan hingga kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Ini semata-mata lantaran Reda menolak meminggirkan mobilnya di jalan tol. Di Suriah, pertengkaran memuncak. Reda pergi meninggalkan ayahnya sendirian di gurun pasir setelah sang ayah memberikan duitnya pada seorang janda tua. Padahal duit mereka nyaris ludes usai ditipu orang Turki bernama Mustafa (Jacky Nercessian).

Uniknya mereka terus bersatu. Lewat film ini kita disodori sebuah hubungan kasih sayang ayah-anak yang ganjil namun terasa alami. Bagai ada tangan tak terlihat yang terus merekatkan keduanya. Yang kentara adalah sang ayah digambarkan sebagai sosok kepala batu dan Muslim yang taat. Namun, tak disangka, ia adalah seorang moderat yang sungkan memaksa Reda ikut shalat bersamanya.

Dan penonton pun bertanya-tanya. Seperti apa kira-kira akhir perjalanan dua manusia dengan kesenjangan budaya dan isi kepala itu? Maka, pada titik ini, Feeroukhi berhasil mengiris-iris hati penonton. Reda diperlihatkan menangis sejadi-jadinya di depan jasad sang ayah yang terbujur kaku. Betapa menyakitkan. Bukankah Reda baru saja mengenal dan menemukan ayahnya lewat perjalanan jauh ini, tapi sekaligus mesti kehilangannya dalam satu pukulan.

Minggu, 20 Desember 2009

ESQ SPIRITUAL JOURNEY (Pukul 13.00-15.00 WIB)

Kebanyakan orang ketika liburan dengan membuang untuk pergi ke tempat-tempat wisata, hal ini mungkin membuat kita bahagia. Tetapi, kebahagiaan yang didapat hanyalah kebahagiaan semu. Ketika kita kembali pulang, yang didapat hanyalah kenangan sesaat.

Di Spiritual Journey, kita diajak berwisata ke rumah Allah. Di sanalah kita akan mendapatkan makna yang lebih mendalam tentang arti kehiupan dan mengetahui kebenaran agama-agama yang mereka anut dan dipercayai.

Sehingga kebahagiaan yang didapat tidak hanya kebahagiaan sesaat, tetapi kebahagiaan yang akan kita bawa seumur hidup bahkan sampai kita mati. Tetapi tidak jarang, meskipun kita berwisata rohani tidak mendapatkan makna apapun dari perjalan tersebut.

Oleh karena itu, ESQ Tours menawarkan perjalanan yang berbeda. Kita akan dibawa ke tempat bersejarah agama kita dengan pemberian materi ESQ ditempat tersebut. Sehingga ketika kita pulang yang kita bawa tidak hanya cinderamata berupa fisik, tetapi sebuah hati yang penuh dengan keimanan.

Forum Agama Islam (FAI) – ESQ (Pukul 16.00-18.00 WIB)

Acara Forum Agama Islam merupakan talk show yang membahas suatu materi tertentu. Jika para peserta forum tersebut kurang paham, mereka dapat menanyakan secara langsung kepada narasumbernya.

Kali ini, para peserta mendapatkan siraman rohani dari Ust. Ahmad Jameel dan pembawa acara ini adalah ustad Taslim. KH.Ahmad Jameel merupakan salah satu pengajar di Pondok Pesantren Daarul Quran, Cipondoh, Tangerang, Banten.

Tema yang diangkat kali ini adalah “Hijrah Dengan Empat Kunci Kemuliaan Seorang Mukmin”. Empat kemuliaan merupakan kalimat pertama yang dikeluarkan rasul ketika hijrah ke kota madinah.

Yang pertama tebarkan salam, dapat diartikan doa dan kebahagiaan orang lain, lalu yang kedua yaitu berbagi atau sedekah, dengan berbagi hati kita menjadi tenang dan bersih. Kemudian ketiga jalin silahturahmi, dengan silatuhrami kita dapat menjalin persaudaraan, dan yang keempat sholatlah malam ketika orang-orang sedang tertidur dengan lelap. (joko/tino/baihaqi)





Berlangganan RSS

Berlangganan Berita ESQ via email:

Masukkan alamat email Anda:

Berlangganan berita ESQ lewat email