ESQ Modal Dasar Pembentukan Karakter

28 January 2010

“Apabila seluruh elemen bangsa Indonesia ini sadar, bahwa tidak ada yang dibawa kecuali iman dan takwa. Maka Indonesia akan menjadi bangsa yang damai, negara yang rakyatnya penuh cinta dan kasih sayang.”

Itulah sekelumit kata-kata Ary Ginanjar Agustian, penggagas metode ESQ Way 165 sekaligus Presiden Direktur ESQ Leadership Center saat memandu training ESQ Basic Eksekutif angkatan 86 Jakarta.

Sekitar 350 orang lebih hadir mengikuti training ini pada Jumat-Minggu (22-24/1) di Menara 165, Cilandak, Jakarta. Karena pelatihan bersifat publik, maka para peserta berasal dari berbagai elemen masyarakat.

Tampak hadir sebagai peserta, pemain biola kawakan Idris Sardi yang sempat mendemonstrasikan kepiawaiannya bermain biola di depan peserta. Usai bermain biola, “Maaf saya tadi bermain bukan untuk bapak dan ibu, tadi saya bermain hanya untuk Allah,” kata pria yang saat ini berusia 71 tahun.

Tampak pula Syech Ali Jabeer, penemu metode hafal Al-Qur’an 30 jus dalam 6 bulan dari Madinah.

Para peserta tampak begitu antusias dan serius menyimak setiap materi yang disampaikan. Paling tidak hal itu tampak dari ungkapan mereka saat dimintai pendapat mereka tentang training ESQ yang mereka ikuti.

Metode training ESQ 165 diakui mampu menggugah dan mengubah kehidupan seseorang serta membawa pesertanya untuk menemukan makna kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan itu sendiri adalah suatu hal yang senantiasa dicari oleh setiap insan di sepanjang hidupnya.

Metode ESQ Way 165 saat ini telah diakui masyarakat hingga menembus Asia Tenggara, Australia, Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.

K O M E N T A R :

Syech Ali Jabeer, penemu metode hafal Al-Qur’an dari Madinah:

Kita sebagai manusia dinamakan insan, karena suka lupa, lalai, dan salah. Oleh karena itu, Allah menamakan manusia itu insan yang berasal dari kata nusian. Dengan adanya pelajaran ESQ, menanamkan kembali cahaya atau sinar Allah.

Saya merasakan nikmatnya mengikuti training ESQ, saya benar-benar menghayati dan menikmati Al-Qur’an kembali. Meskipun saya penghafal Al-Qur’an, bukan berarti saya ini orang yang suci bersih.

Setelah mengikuti training ESQ hati ini tidak hanya terbuka, bahkan belenggu-belenggu yang dapat menghalangi cahaya Allah masuk ke dalam jiwa telah terledakkan. Saya bangga dan senang telah mengikuti program ESQ.

Semoga ESQ menjadi ’surga’ Allah di dunia, sehingga ESQ mengantarkan kita cinta Allah, cinta Al-Qur’an, dan cinta Nabi Muhammad SAW, karena di sanalah kebahagiaan yang hakiki.

Meski kami hafal serta mengerti isi Al-Qur’an, saya sangat bersyukur mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang tidak pernah saya dapat, walaupun saya telah bertemu dengan ulama-ulama besar dan ahli Al-Qur’an.

ESQ menunjukkan hal yang baru. Ini adalah hadiah dari Allah yang terbesar selama saya berada di Indonesia.

Idris Sardi, pemain biola profesional:

Saya ini tidak punya apa-apa, karena nyawa pun tak punya. Jadi tolong jangan puji saya. Tadi bukan Idris yang mengeluarkan suara indah tersebut melainkan Allah. Saya merasa terhormat ketika Pak Ary meminta saya untuk memainkan biola. Saya malu, memang saya ini siapa? Saya ini hanya pengamen kaki lima, saya hanya kebetulan mendapatkan karunia dari Allah hingga bangsa ini menganggap saya hebat.

Saya tidak dapat menjabarkan, betapa syahdunya training ESQ. Saya telah yakin apa saja yang telah saya jalani selama ini, dengan adanya ESQ saya menjadi tambah yakin lagi apa yang saya lakukan itu benar. Karena dalam kehidupan sekarang, kita sering dibuat bingung dengan pendapat para pemuka agama yang berbeda pendapat.

ESQ kita perlukan dalam kehidupan, apalagi metode yang diajarkan ESQ sangat relevan dengan kehidupan. Saya harapkan ESQ dapat menjadi pegangan bagi insan manusia, karena saat ini kita sering memisahkan antara agama dan kehidupan

Saya bermain selalu untuk Allah. Saya tidak bermusik tetapi bertutur rasa dengan Allah. Tetapi dengan ESQ, ternyata saya belum berbuat apa-apa untuk Allah.

Brigjen Pol. Drs. Abdul Rachman, Karo Binjah Polri

Saya seperti mempunyai kekuatan baru, sehingga dalam melaksanakan tugas sebagai polisi tidak akan lengkap jika kita tak mengkombinasikan tiga kecerdasan. Yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Dengan tiga kombinasi kekuatan tersebut, maka akan lahir tindakan-tindakan polisi yang baik seperti yang diharapkan masyarakat. Dengan kekuatan spiritual dan emotional, maka akan mempercepat proses pembangunan kultur di kepolisian.

Selama ini dirasakan kultur di kepolisian dirasa bernada keras, sehingga dengan sentuhan emotional dan spiritual akan menjadi kekuatan hebat. Jika hal ini tercipta, maka antara kepolisian, rakyat, dan elemen-elemen bangsa dapat bekerja sama dengan baik yang pada akhirnya negara ini akan aman dan akan melahirkan penegakan hukum yang adil bagi masyarakat.

Training ESQ sangat penting, karena ESQ (adalah) modal dasar dalam pembentukan karakter bangsa dan kepolisian ke depan. Jika seluruh jajaran kepolisian telah mengikuti training ESQ, maka akan lahir polisi dengan wajah baru yang profesional, modern serta dicintai masyarakat.

Seluruh lembaga pendidikan polisi pada akhir (masa) pendidikan akan dilengkapi dengan pemberian program ESQ. Sehingga sebelum turun ke lapangan, mereka telah dibekali materi-materi ESQ.

Saya berharap pada seluruh elemen masyarakat untuk mengikuti training ESQ, karena sangat bermanfaat. Selain memacu kecerdasan intelektual, tetapi yang sangat penting kecerdasan emotional dan spiritual. Bila Tiga komponen itu bersatu, maka akan menjadi pelopor pembangunan masa depan. (joko/syam - www.esqmagazine.com)

Bookmark and Share Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post


Leave a Reply


Berlangganan RSS

Berlangganan Berita ESQ via email:

Masukkan alamat email Anda:

Berlangganan berita ESQ lewat email