Sabar Menjalani Cobaan

Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Tidak padaku. Seharusnya, saat itu aku bersama beberapa teman berada di Hong Kong. Namun, karena terlanjur berjanji untuk memperingati malam Nisfu Sa’ban di rumah seorang kerabat, aku pulang. Aku tidak ingin mengecewakan orang, terlebih mengingkari janji. Jadi, aku pulang dan menyiapkan kebutuhan konsumsi. Aku suka bakso, maka masakan itu pula yang ingin aku bagi bersama 40 jamaah pengajian lainnya.

Hari itu, Kamis malam Jum’at, 8 September 2006. Usai pembacaan doa, aku berinisiatif memanaskan kuah bakso. Aku menaruhnya di sebuah wadah di atas meja, dan memanaskannya dengan menggunakan nyala api dari spiritus. DUARRR!!! Tiba-tiba api menyembar seluruh wajah dan tubuhku. Dalam waktu sekejap, api menghanguskan baju dan selendang yang aku pakai. Tubuhku terasa panas. Wajahku seakan melepuh. Ya Allah, ada apa ini?

Orang-orang di sekitarku panik. Mereka mengambilkan pasmina dan menutupi tubuhku. Aku masih bisa berpikir, dan berjalan ke luar untuk memanggil sopirku. “Antar saya ke rumah sakit, Pak,” ujarku pada sopir yang terkejut menatapku.

Seorang teman dan adik perempuanku menemani ke Rumah Sakit Pondok Indah. Yang aku heran, aku tidak panik. Aku sadar bahwa aku mendapatkan teguran Allah, dan aku hanya berpasrah pada-Nya. “Sekiranya rasa sakit ini bisa menghapus dosa-dosaku, aku pasrah ya Allah,” kataku dalam hati, dan senantiasa berdizikir. Mas Arif, suamiku, saat itu sedang berada di Amerika Serikat. Aku bukannya tidak ingin memberinya kabar, hanya aku tidak mau menambah pikirannya. Aku merasa baik-baik saja. Insya Allah, semuanya baik-baik saja.

Adik perempuanku mulai menangis. Ia segera menghubungi suamiku setelah didesak dokter. Ia juga yang menghubungi anakku. Setelah Rilla, putri pertamaku, datang, ia kembali menghubungi papanya. Sayup-sayup aku mendengar isak tangis Mas Arif. Ya Allah, Mas Arif yang terlihat sangat kuat dan tegar, ternyata tidak tahan mendengar berita itu. Aku mencoba untuk tidak membuat hatinya berat. “Aku tidak apa-apa kok, Pa.”

Ternyata pihak Rumah Sakit Pondok Indah merujukku ke Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Semua dokter dan perawat mengantarkanku dengan sangat ramah. Setiap aku mengeluh sakit, mereka membimbingku untuk berdzikir. Perasaanku menjadi lebih tenang. Aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang takwa.

Sampailah aku di RSPP. Proses untuk masuk tidak memerlukan waktu lama. Para perawat dan dokter sangat cekatan. Setiap akan melakukan sesuatu, samar-samar aku mendengar mereka mengucap, “Bismillah”. Alhamdulillah, aku ditangani oleh orang-orang yang hanya meminta pertolongan kepada Allah.

Dalam kesakitan, aku masih terus mengucap syukur. Rilla terlihat sangat dewasa menghadapi ini. Ia telah menjadi anak yang bisa memberikan kelegaan bagiku. Rilla pula yang menjemput papanya saat tiba di bandara. Dari papanya aku mengetahui bahwa Rilla mengatakan agar tidak panik, karena mama tidak apa-apa. Sungguh, ia sudah menjadi seorang gadis yang tenang.

Rasa syukurku semakin bertambah ketika mendengar bahwa Mas Arif langsung mengirim SMS kepada Pak Ary Ginanjar sesaat setelah mengetahui aku terkena sambaran api. Kira-kira isinya, mohon didoakan agar kami sekeluarga diberi kesabaran, dan Allah memberikan kesembuhan pada saya.

Aku sangat terharu. SMS itu ternyata membawa dampak besar. Beberapa hari aku terbaring di rumah sakit, kamar rawatku kebanjiran para pembesuk. Aku tidak mengenal siapa yang membesukku. Yang aku tahu hanya, mereka alumni ESQ. Hatiku semakin terharu. Setiap para alumni datang, semangatku makin bertambah. Para saudara baruku itu terus memberikan motivasi dan doa. Aku merasa seperti sudah mengenalnya sangat lama.

Dari para alumni itulah, aku baru tahu tentang SMS Mas Arif. Tidak disangka, efeknya sangat besar. Pesan bermakna lain juga aku dapat dari alumni ESQ yang aku tidak kenal, semuanya mendoakan kesembuhanku. Ya Allah, terimakasih. Wajahku memang menjadi rusak, rasanya pun sakit dan panas, tapi kebahagiaan yang Engkau berikan terlampau besar. Tidak sebanding dengan rasa sakit ini.

Tidak hanya itu. Di rumah sakit, aku bisa merasakan betapa anak, suami, dan saudara-saudaraku begitu menyayangiku. Mereka bergantian menjagaku. Menemani dan mendoakan. Kiriman doa juga aku dapat dari berbagai pengajian dan anak yatim yang sering aku kunjungi.

Subhanallah. Aku yakin doa-doa tulus itulah yang membuat proses penyembuhanku lebih cepat.

Hanya 12 hari di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang. Wajah yang membengkak dua kali lipat, kini kembali seperti semula. Proses penyembuhan itu berlangsung tanpa ada pisau operasi yang membelah wajahku sedikit pun. Bahkan, suster yang merawatku tidak mengenaliku waktu aku kembali untuk check up. “Oh ibu, ternyata langsing yah,” ujar suster itu.

Saran beberapa teman untuk berobat ke luar negeri, dengan sangat bersyukur, aku tolak. Aku merasa lebih nyaman berada di sini, dan dirawat oleh orang-orang yang mencintai Allah. Apalagi di Indonesia aku selalu didampingi orang-orang yang dekat di hatiku. Hal itu membuatku berpikir: “Walau negara ini dihujat orang, masih ada segelintir orang yang tulus mendoakan orang lain.” Dan mungkin ini tidak lagi ditemukan di negara-negara maju.

Pada training Eksekutif ke-53, November 2006, aku bersama suami tampil di hadapan peserta untuk memberikan sedikit pengalaman. Harus kuakui, aktivitasku di ESQ memang tidak besar. Peristiwa ini membuat aku merasa harus berkiprah lebih dalam menyebarkan ajaran Rasulullah. Memberikan sedikit motivasi bagi saudaraku yang lain. Dan memberikan keyakinan bahwa Allah lebih tahu arti kebahagiaan. Dan hanya dengan berserah diri kepadaNya, kebahagiaan itu muncul tanpa diduga-duga.

* Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (eks. ESQ Magazine) No. 02/Thn III/2006





Berlangganan RSS

Berlangganan Berita ESQ via email:

Masukkan alamat email Anda:

Berlangganan berita ESQ lewat email