Training ESQ Ustadz dan Ustadzah Ke-3
8 March 2010
ESQ Leadership Center (ESQ LC) dan Forum Komunikasi Alumni (FKA) kembali mengadakan training ESQ tingkat dasar bagi ustadz-ustadzah di ruang Andalucia, Menara 165, Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa-Kamis (2-4/3). Training angkatan ke-3 yang diberikan secara gratis ini dihadiri 435 peserta yang terdiri dari berbagai ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persatuan Islam, Dewan Dakwah Indonesia, Hizbut Tahrir, dan Hidayatullah. Selain itu hadir pula peserta dari Depag, berbagai majelis taklim, dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) yang tersebar di Jabodetabek. Training untuk para ustadz ini dipandu oleh Abdul Jabir Uksim dengan asistennya Ade Armand dan Mirza Syah.
Kegiatan ini melengkapi kegiatan sosial FKA dan ESQ LC yang selama ini telah menyelenggarakan training Peduli Pendidikan, Peduli Warga Binaan Lapas, Peduli Dhuafa, Peduli Anak Yatim, dll. Training ini merupakan ungkapan terima kasih pada ustadz dan ustadzah atas perjuangannya menyebarkan kebaikan dan menjaga moralitas bangsa.
Fatmawati, salah satu peserta mengatakan, training ESQ sangat penting, karena tidak semua ustadz-ustadzah mampu mengendalikan emosinya. Jadi ketika mau berdakwah dapat lebih memfokuskan dirinya mengabdi kepada Allah dan jangan menjadikan uang sebagai berhala. Sudah kewajiban kita berdakwah karena meneruskan sifat nabi yang tujuannya ialah bertemu menghadap Allah.
“Fisik dan batin itu kembali bersih, terlepas dari seluruh belenggu-belenggu hati,” harapnya yang juga sebagai pengajar di Majelis Ta’lim Ziyadatul Hasanat.
Ustadz Achmad Syukron Ghozali yang juga peserta mengungkapkan training ini luar biasa, karena memang pusat dari kehidupan itu ada di spiritual. Selama tiga hari ini gembira luar biasa gembira yang hakiki. Menurutnya bagi ustadz-ustadzah ada sesuatu yang kurang kalau belum melewati ESQ, karena training ini dapat diterima di segala zaman dan akan membantu para ustadz-ustadzah ketika terjun di masyarakat. Ia berharap kepada para ustadz-ustadzah apa yang telah didapat selama training ESQ tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi terus berkesinambungan.
“Jadi saya berharap kepada saudara-saudara kita ini dukungannya kepada ESQ,” harapnya yang juga sebagai pengajar di Majelis Ta’lim, Yayasan Al-Muhajirin.
Pendiri ESQ, Dr. H.C Ary Ginanjar Agustian dalam sambutan penutupan training mengatakan, sebuah kehormatan bagi ESQ dapat berbagi ilmu kecerdasan emosional dan spiritual yang saat ini ramai diperbincangkan dunia. Selama ini manusia lebih mengedepankan kecerdasan intelektual, tetapi setelah dilakukan penelitian terbukti kecerdasan intelektual hanya berperan sekitar 6%-20%. Ada kecerdasan lain yang membuat manusia sukses dan bahagia yaitu kecerdasan emosional dan spiritual, ini semua adalah bukti yang telah tertulis di dalam Al Quran itu benar.
“Tidak akan berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka, akhirnya era spiritualitas menjadi yang utama dan tak lain era itu adalah eranya para ustadz-ustadzah yang bersama membangun akhlak dan moral bangsa,” ungkapnya.
Sementara itu di tempat dan hari yang sama telah berlangsung Gerakan Moral Asma’ul Husna 99 (GeMAH 99) di Dining Room, Menara 165, Rabu (3/3). Kegiatan GeMAH 99 ini diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda 165 (GEMA 165) dan telah terselenggara dua kali di Menara 165.
Kegiatan ini dipandu dipandu oleh Ustadz M. Taslim dan A. Falash dihadiri 157 peserta yang terdiri dari alumni dan non alumni ESQ. (tino/ida)
- TESTIMONI -
Komarudin (Ketua Unit TPA Yayasan Al-Ikhwan):
Selaku ustadz saya mengakui bahwa selama ini hanya menyampaikan yang tertuang di dalam Al Quran dan Hadist sebatas yang diketahui, tetapi yang mendalam dari itu semua belum dirasakan. Kita menyampaikan kepada umat, sementara kita tidak merasakan itu, kita ingin umat merasakan tapi kita baru merasakannya. Training ESQ membuat saya bergetar, seperti ada yang memukul (memperingatkan) seakan-akan kita tahu segala sesuatu, tapi ternyata kita tidak mengetahui dan baru tahu sekarang.
ESQ penting sekali seakan-akan kita sudah merasa spiritual kita penuh tapi ternyata kita hanya mampu sebatas mengucapkan, belum benar-benar merasakan. Hati kita belum mengucapkan baru lisan kita yang mampu mengucapkan, di sinilah kita baru merasakan.
Pelatihan ini bermanfaat terutama bagi diri sendiri, sebelum kita menyampaikan kepada orang lain (umat) tentunya apa yang akan kita sampaikan, kita sudah merasakan dan melakukannya, sehingga ada kekuatan besar untuk menyampaikan kepada umat. Jangan sampai kita mengajarkan kebaikan kepada orang lain tapi kita sendiri tidak melakukan.
Farida Hanum (Pendiri dan Ketua Majelis Ta’lim Ibu-ibu Al-Muhajirin):
Setelah mengikuti training terasa ada perubahan di dalam diri saya seperti menyadari kesalahan-kesalahan. Yang sebelumnya masih banyak belenggu-belenggu di dalam hati, mudah-mudahan dengan training ESQ ini kita bisa membenahi diri. Apa yang didapat (ilmu) di pelatihan ini Insya Allah akan disampaikannya kepada jama’ah saya, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Mulailah dari dirimu sendiri baru orang lain.
Saya menyadari banyak kesalahan, yang mulanya hati bersih, terus lama-kelamaan semakin bertambahnya usia semakin kotor, Insya Allah dengan mengikuti ESQ ini dapat keluar dari belenggu-belenggu itu.
Saya berharap dengan training ESQ para ustadz-ustadzah dapat menurunkan ilmunya agar dapat mensyiarkan agama Islam dengan cara yang lebih profesional lagi. Apa yang didapat kita terapkan lagi di masyarakat. Mudah-mudahan seluruh ustadz-ustadzah bisa mengikuti ESQ.
Syaeful Bachri (pengajar Madrasah Miftahul Huda, Majelis Ta’lim Husnul Khatimah)
Pelatihan ini sebetulnya dapat menjadi wahana membuka mengenal Allah; siapa diri kita, siapa Allah, mau kemana kita, dan apa tujuan kita. Apa yang didapat di ESQ ini bisa terpancarkan ke dunia. Bayangkan saja jika satu ustadz/ah mempunyai seratus jema’ah, maka ustadz/ah dapat memancarkan ilmu yang didapat selama training ESQ. Jika sepuluh ustadz/ah masing-masing mempunyai seratus jemaah, maka akan ada seribu jemaah, demikian seterusnya.
Semakin banyak orang yang training dan bisa memancarkan kepada yang lain Insya Allah, Indonesia Emas 2020 akan tercapai, asalkan komitmennya yang hadir sampaikanlah kepada yang tidak hadir agar kembali ke jalan Allah.
Saya merasa baru memahami makna berdzikir kepada Allah, karena sesungguhnya semua bermuara kepada Allah tidak dengan yang lain. Sebelum training hanya kami dengar kami taat, tetapi belum mendapatkan pemahaman yang mendalam. Saya mendukung apa yang dilakukan ESQ mentraining ustadz-ustadzah agar terus dilanjutkan dan dikembangkan, sehingga tercapailah Indonesia Emas 2020. (tino/ida)
Email This Post
Print This Post








Berlangganan Berita ESQ via email:



